10 Larangan untuk Menghindari Kontaminasi pada Jamur Tiram

Kontaminasi pada budidaya jamur tiram memang menyebalkan. Banyak uang yang dikeluarkan dan tenaga juga tentunya kalau kontaminasi datang semuanya akan sia-sia saja. tidak peduli tingkatan mana dalam proses pembudidayaan jamur tiram, kontaminasi pasti dapat mengencam. mulai dari pembuatan media PDA, bibit jamur hingga baglog produksi memiliki peluang yang sama.

Cara mengatasi kontaminasi ada beragam, ini tergantung dari masing-masing petani. Ada yang menerapkan pencegahan organik atau kimiawi. Tentu saja yang kimiawi ini perlu dihindari yah…. karena jamur sangat mudah menyerap senyawa kimia dan dapat terakumulasi di dalamnya.

Berikut ini beberapa contoh perilaku yang dilarang saat berbudidaya jamur. Perilaku ini berpotensi menimbulkan kontaminasi, jangan anggap sepele sesuatu yang kecil dan sederhana karena bisa saja jamur tiram di kumbung anda luluh lantak tak bersisa.

1. Mencampur stok media lama dengan yang baru. Anda tidak akan tahu mikroorganisme apa yang sudah bersarang pada media lama.

2. Menggunakan alas kaki dari luar areal bididaya. Bisa saja alas kaki yang anda pakai sebelumnya menginjak atau bersinggungan dengan sumber kontaminsi

3. Menggunakan baju kotor. Pekerja sering ceroboh ketika bekerja di kumbung, mentang-mentang kerja kasar lantas baju yang dikenakan tidak pernah dicuci, alasannya simpel karena pakaian “dinas”… Padahal hal ini berbahaya sekali terutama ketika inokulasi.

4. Makan di areal budidaya. Lah…. tempat makan kan di ruang makan masak di kumbung… atau ruang inkubasi apalagi ruang inokulasi… kacau dah… gimana kalau nasinya tercecer… jadilah biang kontaminasi, jamur oncom tumbuh lalu menyerang seisi kumbung…

5. Berbicara / bersin saat inokulasi. mulut itu sumber bakteri, memang hal ini sangat kecil kemungkinannya mengakibatkan kontaminasi tapi dari hembusan angin dari mulut tertuju langsung ke dalam baglog atau bibit jamur. Akibatnya jamur kontaminan yang ada di udara ikut masuk ke dalamnya.

6. Tidak menggunakan bunsen / api. Jangan mentang-mentang sudah ahli inokulasi jamur tiram, tetap saja makhluk kasat mata berpeluang hinggap di alat tanam lalu masuk ke media saat inokulasi.

7. Menaruh sembarangan alat tanam. ini tentu sudah jelas maksudnya, apalagi kalau alat tanam tidak pernah dicuci.

8. Menggunakan air kotor. Karena malas mengambil air yang agak jauh, main ambil saja air terdekat, padahal bisa saja air itu bekas cuci tangan orang atau lainnya.

9. Membiarkan binatang piaraan bermain di tumpukan media. Wah… bagaimana kalau “pup” di situ yah…

10. Makan jagung sambil memandangi jamur tiram di kumbung.  awas tercecer jagungnya atau lupa sengaja dibuang bonggolnya di pojokan kumbung… bisa bahaya…

10. Menunda memisahkan baglog kontam. kalau anda tahu ada baglog yang kontam, segera pindahkan saja. buat apa dipiara kalau beresiko mengkontaminasi yang lain.

nah demikian itu sebagian kecil hal-hal remeh yang bisa mengakibatkan kontaminasi. sebenarnya perilaku anda atau saya sendiri yang menyebabkan kontaminasi. ayo berbudidaya lebih rapi, bersih dan teratur… 🙂

kalau anda tidak ingin kontaminasi terjadi pada budidaya jamur tiram yang anda lakukan, beli baglog yang sudah jadi saja. cara ini dapat mengurangi 50% peluang terjadinya kontaminasi dan kerugian investasi anda. segera hubungi kontak blog ini untuk memesan baglog berkualitas dengan bibit jamur tiram shimeji dari jepang.

Iklan

Tips Mudah mendongkrak hasil panen pertama dan kedua

Baglog merupakan media tanam yang dipersiapkan untuk kebutuhan pertumbuhan jamur tiram. Di dalamnya telah tersedia berbagai nutrisi tambahan yang tidak tersedia di lingkungan aslinya tempat jamur tumbuh liar. Terang saja karena baglog dirancang untuk memproduksi jamur tiram dengan kualitas yang baik dan diharapkan dapat tumbuh secara berlanjut. 

Selain bahan-bahan tambahan, baglog juga memiliki kelembapan yang berasal dari air. Air ini salah satu syarat pertumbuhan jamur tiram. Seperti pepatah bagai jamur di musim penghujan, jamur memang tumbuh subur pada kondisi udara yang lembab lagi sejuk. Dengan tidak tercukupinya air bagi pertumbuhan, jamur tiram yang dihasilkan pun akan jauh dari kualitas.

Pengkabutan kumbung dilakukan untuk menghasilkan keadaan seperti kondisi optimum pertumbuhan jamur tiram. Namun sering kali pengkabutan memiliki banyak kekurangan. Pengkabutan dengan nozel yang terlalu besar akan berdampak pada akumulasi bintik air pada jamur tiram. Bila hal ini terjadi air akan lebih lama hilang dari jamur tiram dan mengakibatkan bercak kuning. Keadaan ini tentu tidak menarik saat dikemas.

Pengkabutan yang terlalu sering juga mengakibatkan lingkungan kumbung terlalu basah. Keadaa ini bisa memacu pertumbuhan mikroorganisme lain seperti ganggang dan bakteri pada media baglog. Hasil jamur tiram yang didapat pun terlalu basah sehingga mudah rusak atau tidak tahan lama saat disimpan.

Masalah yang lain lagi yaitu terkadang petani sulit menentukan waktu siram. Patokannya bukan pagi dan sore tapi apabila kelembapan kumbung telah berkurang. Bagi kumbung yang memiliki pengukur kelembapan saya rasa hal ini tidak menjadi persoalan.

Ada tips sederhana untuk mengatasi atau paling tidak dapat mengurangi masalah tersebut di atas. Efek lainnya yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot panen jamur tiram tanpa menjadikannya lebih lemah disimpan. Dengan cara ini hasil panen jamur tiram akan meningkat pada awal-awal panen karena kondisi baglog tidak banyak berubah.

Caranya cukup anda lubangi saja plastik pada bagian atas baglog tanpa membuka kapas penutup. Buat 2-3 lubang dan biarkan jamur tumbuh dari sana. Pada panen berikutnya buat kembali lubang di tempat berbeda dengan jumlah lubang lebih banyak. Cara ini memiliki maksud untuk mengurangi penguapan yang terjadi pada baglog sehingga air yang tersedia dimanfaatkan secara maksimal bagi pertumbuhan jamur tiram. Bila sudah demikian, otomatis bobot panen akan meningkat.

Mari kita lihat kebiasaan petani selama ini, ada yang membuka kapas, setelah panen dikorek-korek, atau membuka langsung memotong plastik bagian atas agar primordia yang keluar lebih banyak karena bidang tumbuh lebih luas. Tapi kelemahannya media mengalami penguapan yang tinggi dan cepat kering. Tentu anda dapat membandingkan penguapan yang terjadi antara baglog dengan diberi lubang kecil dengan baglog yang dibuka kapas penutupnya, terlebih-lebih yang dipotong plastik bagian atasnya…

Bila anda beranggapan pengkabutan akan membuat media kembali basah, saya menyangkal anggapan ini. Sebab baglog dengan misellium yang tebal tidak mudah menyerap air. Walau anda siram sekalipun air akan sedikit sekali yang terserap dan tidak akan mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Anda dapat amati baglog yang plastiknya semakin hari semakin keriput, seharusnya hal itu tidak terjadi bila anggapan itu benar.

Nah, pada panen ketiga atau keempat dan seterusnya anda dapat membuat lubang yang lebih besar karena panen “monster” telah terjadi pada awal pertumbuhan. Lakukan perawatan seperti biasa… keberhasilan panen monster tidak terlepas pula dari kualitas bibit yang digunakan. Bibit kami telah banyak digunakan secara luas di daerah Bogor, Bandung, dan Lampung. Petani yang mencoba-coba menggunakan bibit lain pada akhirnya kembali lagi menggunakan bibit kami.

Sifat bibit jamur tiram yang kami produksi:

Ukuran besar, rumpun banyak, berwarna putih bersih dan tidak mudah pecah pingir tudungnya.

Kami tunggu anda di tempat kami untuk studi banding dan berbagi informasi, bila memungkinkan dapat terjalin hubungan bisnis… Silahkan lihat halaman KONTAK. Anda ingin mengetahui layanan kami silahkan lihat TOTAL SUPPORT.

 

salam hangat,

Rachmatullah.

Komposisi Media Tanam Jamur Tiram (Baglog)

Jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus ostreatus merupakan jamur kayu yaitu jamur yang tumbuh di kayu. Jamur ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat dimakan dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh.

Akhir-akhir ini komoditi jamur konsumsi semakin dilirik untuk dikembangkan. Dengan memodifikasi lingkungan tumbuh dan medianya jenis-jenis jamur ini dapat hidup dengan baik dan mendatangkan keuntungan.

Secara budidaya, kita tidak mungkin menanam pada batang kayu karena akan sangat merepotkan. Oleh karena itu media jamur tiram dibuat untuk mempermudah, memaksimalkan kualitas dan kuantitas produksi. Media itu kemudian dibuat dalam kantung-kantung plastik berisi serbuk kayu yang telah dilengkapi komposisi tambahan (baglog). BAG = kantung dan LOG = kayu berbentuk log atau silinder

Berikut merupakan media tanam yang dapat digunakan:

Komposisi I

Serbuk gergaji : 100kg
Bekatul : 10kg
Kapur : 0.5kg
Tepung Jagung : 0.5kg
Air Sumur : 45-60% volume
TSP : 0.5kg
Gipsum : 0.5kg

Komposisi II

Serbuk gergaji : 30krg
Bekatul : 45kg
Kapur : 12kg
Tapioka : 15kg
Air Sumur : 45-60% volume

Hal penting yang menentukan keberhasilan media yaitu jenis kayu. Serbuk kayu albasiah atau sengon sangat baik untuk media. Namun jangan sekali-kali memakai kayu pinus karena dapat dipastikan tidak akan tumbuh. Secara sederhana hindari penggunaan kayu yang bergetah.

Kedua komposisi tersebut dapat digunakan dan sifatnya tidak mutlak. Biasanya masing-masing pembudidaya memiliki komposisi dan idealisme berbeda.

Komposisi pertama memiliki kelebihan yaitu mempercepat pertumbuhan jamur, hasilnyapun rata-rata lebih besar dari komposisi kedua. Keunggulan ini karena pengaruh dari pemberian TSP yang dapat memacu pertumbuhan misellium.

Akan tetapi komposisi pertama memiliki kelemahan yaitu jamur yang dihasilkan lebih berair / lebih lunak sehingga tidak dapat bertahan lama. Hasil komposisi pertama bila dikeringkan rendemennya lebih kecil dibandingkan komposisi kedua.

Kelemahan yang kedua yaitu jenis media ini membuat jamur yang dihasilkan tidak organik. Kesadaran masyarakat akan hidup sehat semakin tinggi, kasyarakat vegetarian akan lebih menghargai keorganikan hasil komposisi kedua. Jamur tidak organik lambat laun akan kalah saing bila bertarung di pasar modern dan tentu saja hal ini membatasi ruang gerak pemasaran.

Pentingnya Sirkulasi Udara (aerasi) pada Budidaya Jamur Tiram

Aerasi yaitu proses pertukaran atau aliran udara yang mengandung oksigen (O2) dengan karbondioksida (CO2). Dalam siklus atau perputaran masa hidup jamur tidak membutuhkan kedua jenis udara itu dengan sama besar.

Pada saat pertumbuhan misellium kebutuhan akan karbondioksida lebih tinggi dibandingkan oksigen. Sedangkan untuk pembentukan primordial hingga tubuh buah dewasa membutuhkan oksigen lebih banyak dibandingkan karbondioksida.

Dengan demikian, baglog yang telah diinokulasikan disimpan dalam ruang tanpa ventilasi (jendela) agar pembentukan misellium menjadi baik dan lebih cepat. Kemudian saat ingin pembentukan tubuh buah, ventilasi perlu dibuka agar sirkulasi udara baik.

Pasokan oksigen yang kurang pada saat pembentukan tubuh buah akan mengakibatkan pertumbuhan tubuh buah kurang maksimal sehingga kerdil. Misellium dapat pula memadat pada satu wilayah karena sirkulasi yang tidak merata.

Kebutuhan oksigen yang besar bukan berarti mengesampingkan keberadaan karbondioksida. Jumlah karbondioksida yang tidak mencukupi dapat mengakibatkan tangkai jamur tiram menjadi panjang (etiolasi).

Kebutuhan Nutrisi Jamur Tiram dalam Media Tumbuh

Pertumbuhan jamur tiram membutuhkan nutrisi untuk metabokisme dalam tubuh. Nutrisi atau hara yang dibutuhkan yaitu:

a. Karbon
Karbon (C) bersumber dari karbohidrat sebagai unsur dasar pembentukan sel dan sebagai energi untuk metabolisme. Sumberkarbon diperoleh dalam bentuk monosakarida, polisakarida, selulosa dan lignin (kayu)
b. Nitrogen
Nitrogen diperlukan untuk pembentukan protein, lemak dan berbagai persenyawaan organik. Nitrogen juga berguna untuk mempercepat pertumbuhan.
c. Vitamin
Vitamin berfungsi sebagai bahan tambahan atau suplemen sehingga pertumbuhan jamur menjadi lebih baik. Vitamin yang dibutuhkan oleh jamur yaitu vitamin B1 dan B12.
d. Mineral
Mineral sebagai unsur hara mikro yang berguna sebagai pelengkap pada jamur. Kebutuhan mineral sudah tercukupi dari media. Penambahan kapur sebagai pengatur tingkat kemasaman (pH) sekaligus memenuhi kebutuhan mineral yaitu kalsium (Ca)

Lingkungan Tumbuh Jamur Tiram

Jamur tiram (Pleurotus spp.)pada umumnya dapat tumbuh pada ketinggian 700 m di atas permukaan air laut. Namun pertumbuhan akan lebih baik bila pembudidayaan dilakukan pada ketinggian 800-1200 m di atas permukaan air laut (Suriawiria, 2002).

Misellium jamur membutuhkan suhu optimum pada kisaran 22-27oC dengan kelembapan 60-80%. Sedangkan untuk pembentukan tubuh buah diperlukan suhu 16-22oC dengan kelembapan 80-90%.

Pada saat pembentukan tubuh buah adanya cahaya diperlukan walaupun hanya 10%. Ruang penanaman yang tidak memiliki pencahayaan sama sekali dapat menyebabkan tubuh buah tidak berkembang baik seperti tudung lebih kecil. Sedangkan panjang gelombang yang cocok untuk pertumbuhan yaitu 520 nm.

Kadar air yang dibutuhkan pada media tanam sekitar 50-65% dengan pH 6-7. mempertahankan kadar air dengan cara menjaga kelembapan ruang tanam, sedangkan derajat keasaman (pH) dengan pemberian kapur.