SURAT PERJANJIAN KERJASAMA BUDIDAYA JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.)

SURAT PERJANJIAN KERJASAMA

BUDIDAYA JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.)

Bismillaahir-rohmaanir-rohiim, dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang bertanda tangan di bawah ini:

 

1.       Nama                    : …………………………………………….

Tempat / Tgl Lahir : …………………………………………….

No. KTP                 : …………………………………………….

Alamat                  : …………………………………………….

…………………………………………….

 

Selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA

 

2.       Nama                    : …………………………………………….

Tempat / Tgl Lahir : …………………………………………….

No. KTP                 : …………………………………………….

Alamat                  : …………………………………………….

…………………………………………….

 

Selanjutnya disebut PIHAK KEDUA

 

Berdasarkan prinsip saling percaya, keterbukaan dan menjunjung tinggi kebenaran, kedua belah pihak tersebut di atas telah setuju dan sepakat tanpa paksaan melakukan hubungan kerjasama usaha budidaya jamur tiram. Adapun hak dan kewajiban kedua belah pihak diatur sebagai berikut:

 

PASAL 1

Ruang Lingkup Kerjasama

 

1.     Kerjasama yang dimaksudkan dalam surat perjanjian ini yaitu Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar.

 

2.     PIHAK PERTAMA menyediakan media tanam jamur tiram siap produksi yang kemudian disebut sebagai baglog dengan cara membeli baglog kepada PIHAK KEDUA.

 

3.     PIHAK KEDUA menyediakan / memproduksi baglog sebagai barang pembelian oleh PIHAK PERTAMA.

 

4.     PIHAK KEDUA menggunakan baglog tersebut di ayat 2 dan 3 sebagai barang investasi dari PIHAK PERTAMA untuk memproduksi jamur tiram seperti tersebut di ayat 1.

 

PASAL 2

Harga Baglog dan Pembayaran

 

1.     PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA telah menyepakati harga satuan baglog sebesar Rp. 1.800,- (seribu delapan ratus rupiah).

 

2.     PIHAK PERTAMA membeli baglog kepada PIHAK KEDUA sesuai harga tersebut di ayat 1 dengan jumlah 10.000 buah sehingga total harga pembelian menjadi Rp. 18.000.000,- (delapan belas juta rupiah).

 

3.     PIHAK PERTAMA telah melakukan pembayaran untuk pembelian 10.000 baglog dari PIHAK KEDUA secara tunai / kontan / cash.

 

PASAL 3

Jangka Waktu

 

1.     PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA menyepakati jangka waktu perjanjian hubungan kerjasama seperti tersebut di PASAL 1 selama 5 bulan 14 hari.

 

2.     Rincian waktu tersebut di ayat 1 yaitu 1 bulan 14 hari adalah waktu yang diberikan PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA untuk menyelesaikan produksi baglog dan 4 bulan adalah waktu kerjasama produksi jamur tiram segar yang selanjutnya disebut sebagai periode produksi.

 

3.     Periode produksi terhitung saat pertama kali jamur tiram dipanen dan terjual.

 

4.     Jangka waktu surat perjanjian kerjasama ini dapat diperpanjang / dilanjutkan sesuai kesepakatan PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

 

PASAL 4

Spesifikasi Baglog

 

1.     Baglog yang diproduksi oleh PIHAK KEDUA untuk PIHAK PERTAMA menggunakan ukuran plastik 17 x 35 cm dengan ketebalam 0.3 – 0.4 mm dan berat rata-rata 1 – 1.2 kilogram.

 

2.     Baglog tersebut di ayat 1 telah memiliki misellium sempurna ditandai dengan warna putih menutupi seluruh permukaan baglog.

 

3.     Baglog tersebut di ayat 1 tidak menggunakan ring sebagai penutup mulut plastik tetapi menggunakan steples atau karet (sesuai ketersediaan).

 

PASAL 5

Biaya Operasional dan Rincian Pendapatan

 

1.     PIHAK PERTAMA membayarkan Rp. 1.000,- (seribu rupiah) kepada PIHAK KEDUA dari hasil panen jamur tiram segar terhitung setiap kilogram dan berlaku kelipatannya sebagai biaya operasional / jasa pemeliharaan baglog.

 

2.     Pembayaran tersebut di ayat 1 dilakukan dengan cara pemotongan / auto debet pendapatan yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA dari hasil penjualan jamur tiram segar sejumlah tersebut di ayat 1 yaitu Rp. 1.000,- (seribu rupiah) setiap kilogram penjualan panen.

 

3.     Diasumsikan harga penjualan jamur tiram segar setiap kilogram adalah Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah), maka PIHAK PERTAMA akan mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dan PIHAK KEDUA mendapatkan pendapatan sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah) dari setiap kilogram penjualan.

 

4.     Harga penjualan tidak ditentukan dalam surat perjanjian ini melainkan mengikuti / sesuai dengan harga pasar yang berlaku. Harga Penjualan tersebut di ayat 3 sebesar Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) merupakan harga asumsi dan bukan harga mutlak.

 

PASAL 6

Perihal Kemungkinan Rugi

 

1.     Perihal rugi-laba secara total sejak pertama kali panen hingga akhir periode tanam dihitung pada akhir periode tanam.

 

2.     Apabila total perhitungan rugi-laba selama periode tanam mengalami kerugian, jumlah kerugian akan ditanggung oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA dengan perbandingan 50% : 50%.

PASAL 7

Hak dan Kewajiban Pihak Pertama

 

1.     PIHAK PERTAMA memiliki hak melakukan sendiri atau menugaskan tenaga kerjanya untuk memantau hasil panen dari baglog miliknya dan harga pasar yang berlaku di pasaran jamur tiram Bogor.

 

2.     PIHAK PERTAMA memiliki hak untuk mendapatkan laporan hasil produksi jamur tiram dari baglog miliknya dan pendapatan setelah hasil panen dipasarkan setiap bulan.

 

3.     PIHAK PERTAMA tidak memiliki hak dalam manajemen produksi dan pemeliharaan baglog yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA atas baglog miliknya.

 

4.     PIHAK PERTAMA memiliki hak memberi saran dan masukan dalam manajemen produksi dan pemeliharaan baglog yang dilakukan oleh PIHAK KEDUA atas baglog miliknya akan tetapi keputusan akhir tetap di tangan PIHAK KEDUA.

 

5.     PIHAK PERTAMA memiliki hak mendapat garansi penggantian baglog dengan yang baru apabila terjadi kontaminasi pada baglog miliknya selama 1 bulan pertama dalam periode produksi. Baglog yang diganti apabila mengandung kontaminan yang di diperkirakan kwalitas maupun kwantitasnya dapat membahayakan baglog itu atau baglog-baglog lainnya yaitu kontaminan dengan ketebalan pekat dan luasan mencapai 25% dari luas permukaan baglog.

 

6.     PIHAK PERTAMA memiliki hak mendapatkan pendapatan seperti tersebut di Pasal 5 sebesar Rp. 6.000,- (enam ribu rupiah) dengan asumsi harga jual Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) untuk setiap kilogram hasil panen dari baglognya yang telah dipasarkan oleh PIHAK PERTAMA.

 

PASAL 8

Hak dan Kewajiban Pihak Kedua

 

1.     PIHAK KEDUA memiliki kewajiban memproduksi baglog yang telah dibeli oleh PIHAK PERTAMA sesuai dengan spesifikasi tersebut di Pasal 4 dengan jumlah tersebut di Pasal 2 ayat 2 yaitu 10.000 baglog dengan tenggang waktu seperti disebut di Pasal 3 ayat 2 yaitu selama 1 bulan 14 hari.

 

2.     PIHAK KEDUA memiliki kewajiban memberikan laporan hasil produksi jamur tiram dan pendapatan setelah hasil panen dipasarkan kepada PIHAK PERTAMA setiap bulan.

 

3.     PIHAK KEDUA memiliki kewajiban mengontrol pemeliharaan baglog milik PIHAK PERTAMA agar hasil panen jamur tiram mencapai rata-rata total minimal per baglog sebanyak 0,4 kilogram.

 

4.     PIHAK KEDUA memiliki kewajiban memberikan garansi penggantian baglog dengan yang baru kepada PIHAK PERTAMA apabila terjadi kontaminasi pada baglog miliknya selama 1 bulan pertama dalam periode produksi.

 

5.     PIHAK KEDUA memiliki hak mendapatkan pendapatan seperti tersebut di Pasal 5 sebesar Rp. 1.000,- (seribu rupiah) untuk setiap kilogram hasil panen dari baglog milik PIHAK PERTAMA yang telah dipasarkan.

 

PASAL 9

Force Majeure

 

PIHAK PETAMA atau PIHAK KEDUA tidak dianggap bersalah atau melanggar salah satu ketentuan dalam surat perjanjian ini oleh sebab-sebab yang bersifat force majeure. Hal-hal yang bersifat force majeure yaitu:

 

1.     Bencana Alam, seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir dan longsor

2.     Wabah penyakit

3.     Perang atau huru-hara

4.     Kebakaran

5.     Pemberontakan

6.     Teroris

7.     Sabotase

 

Apabila terjadi salah satu yang bersifat force majeure di atas, dalam jangka waktu 3 hari PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA bertemu dan membicarakan pemecahannya secara musyawarah untuk mencapai mufakat.

 

PASAL 10

Penyelesaian Perselisihan

 

PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA secara sadar akan menyelesaikan segala permasalahan yang dimungkinkan terjadi dengan jalan kekeluargaan yaitu musyawarah untuk mufakat serta menjunjung tinggi nilai-nilai hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

 

PASAL 11

Penutup

 

1.     Seluruh isi Surat Perjanjian Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan halaman per halaman, pasal per pasal atau ayat per ayat.

 

2.     Surat Perjanjian Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar ini dibuat rangkap 2 (dua), bermaterai secukupnya, dan masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama.

 

3.     PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA menerima / memiliki 1 (satu) rangkap / jilid Surat Perjanjian Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar.

 

4.     Surat Perjanjian Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar ini berlaku setelah ditandatangani oleh PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

 

5.     Surat Perjanjian Kerjasama Usaha Produksi Jamur Tiram Segar ini tidak lagi berlaku setelah 5 bulan 14 hari dari tanggal yang tertera di Surat Perjanjian ini dan atau tidak berlaku setelah periode tanam berakhir dan atau tidak berlaku sesuai tanggal yang tertera pada sudut kiri bawah halaman 6 (enam).

 

 

Bogor, ……………………..

 

PIHAK PERTAMA                                                    PIHAK KEDUA

 

 

 

……………………..                                                   ……………………..

 

 

SAKSI SATU                                                           SAKSI DUA

 

 

 

……………………..                                                   ……………………..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat Perjanjian ini

berlaku hingga: ……………………..

Iklan

10 Larangan untuk Menghindari Kontaminasi pada Jamur Tiram

Kontaminasi pada budidaya jamur tiram memang menyebalkan. Banyak uang yang dikeluarkan dan tenaga juga tentunya kalau kontaminasi datang semuanya akan sia-sia saja. tidak peduli tingkatan mana dalam proses pembudidayaan jamur tiram, kontaminasi pasti dapat mengencam. mulai dari pembuatan media PDA, bibit jamur hingga baglog produksi memiliki peluang yang sama.

Cara mengatasi kontaminasi ada beragam, ini tergantung dari masing-masing petani. Ada yang menerapkan pencegahan organik atau kimiawi. Tentu saja yang kimiawi ini perlu dihindari yah…. karena jamur sangat mudah menyerap senyawa kimia dan dapat terakumulasi di dalamnya.

Berikut ini beberapa contoh perilaku yang dilarang saat berbudidaya jamur. Perilaku ini berpotensi menimbulkan kontaminasi, jangan anggap sepele sesuatu yang kecil dan sederhana karena bisa saja jamur tiram di kumbung anda luluh lantak tak bersisa.

1. Mencampur stok media lama dengan yang baru. Anda tidak akan tahu mikroorganisme apa yang sudah bersarang pada media lama.

2. Menggunakan alas kaki dari luar areal bididaya. Bisa saja alas kaki yang anda pakai sebelumnya menginjak atau bersinggungan dengan sumber kontaminsi

3. Menggunakan baju kotor. Pekerja sering ceroboh ketika bekerja di kumbung, mentang-mentang kerja kasar lantas baju yang dikenakan tidak pernah dicuci, alasannya simpel karena pakaian “dinas”… Padahal hal ini berbahaya sekali terutama ketika inokulasi.

4. Makan di areal budidaya. Lah…. tempat makan kan di ruang makan masak di kumbung… atau ruang inkubasi apalagi ruang inokulasi… kacau dah… gimana kalau nasinya tercecer… jadilah biang kontaminasi, jamur oncom tumbuh lalu menyerang seisi kumbung…

5. Berbicara / bersin saat inokulasi. mulut itu sumber bakteri, memang hal ini sangat kecil kemungkinannya mengakibatkan kontaminasi tapi dari hembusan angin dari mulut tertuju langsung ke dalam baglog atau bibit jamur. Akibatnya jamur kontaminan yang ada di udara ikut masuk ke dalamnya.

6. Tidak menggunakan bunsen / api. Jangan mentang-mentang sudah ahli inokulasi jamur tiram, tetap saja makhluk kasat mata berpeluang hinggap di alat tanam lalu masuk ke media saat inokulasi.

7. Menaruh sembarangan alat tanam. ini tentu sudah jelas maksudnya, apalagi kalau alat tanam tidak pernah dicuci.

8. Menggunakan air kotor. Karena malas mengambil air yang agak jauh, main ambil saja air terdekat, padahal bisa saja air itu bekas cuci tangan orang atau lainnya.

9. Membiarkan binatang piaraan bermain di tumpukan media. Wah… bagaimana kalau “pup” di situ yah…

10. Makan jagung sambil memandangi jamur tiram di kumbung.  awas tercecer jagungnya atau lupa sengaja dibuang bonggolnya di pojokan kumbung… bisa bahaya…

10. Menunda memisahkan baglog kontam. kalau anda tahu ada baglog yang kontam, segera pindahkan saja. buat apa dipiara kalau beresiko mengkontaminasi yang lain.

nah demikian itu sebagian kecil hal-hal remeh yang bisa mengakibatkan kontaminasi. sebenarnya perilaku anda atau saya sendiri yang menyebabkan kontaminasi. ayo berbudidaya lebih rapi, bersih dan teratur… 🙂

kalau anda tidak ingin kontaminasi terjadi pada budidaya jamur tiram yang anda lakukan, beli baglog yang sudah jadi saja. cara ini dapat mengurangi 50% peluang terjadinya kontaminasi dan kerugian investasi anda. segera hubungi kontak blog ini untuk memesan baglog berkualitas dengan bibit jamur tiram shimeji dari jepang.

Tips Mudah mendongkrak hasil panen pertama dan kedua

Baglog merupakan media tanam yang dipersiapkan untuk kebutuhan pertumbuhan jamur tiram. Di dalamnya telah tersedia berbagai nutrisi tambahan yang tidak tersedia di lingkungan aslinya tempat jamur tumbuh liar. Terang saja karena baglog dirancang untuk memproduksi jamur tiram dengan kualitas yang baik dan diharapkan dapat tumbuh secara berlanjut. 

Selain bahan-bahan tambahan, baglog juga memiliki kelembapan yang berasal dari air. Air ini salah satu syarat pertumbuhan jamur tiram. Seperti pepatah bagai jamur di musim penghujan, jamur memang tumbuh subur pada kondisi udara yang lembab lagi sejuk. Dengan tidak tercukupinya air bagi pertumbuhan, jamur tiram yang dihasilkan pun akan jauh dari kualitas.

Pengkabutan kumbung dilakukan untuk menghasilkan keadaan seperti kondisi optimum pertumbuhan jamur tiram. Namun sering kali pengkabutan memiliki banyak kekurangan. Pengkabutan dengan nozel yang terlalu besar akan berdampak pada akumulasi bintik air pada jamur tiram. Bila hal ini terjadi air akan lebih lama hilang dari jamur tiram dan mengakibatkan bercak kuning. Keadaan ini tentu tidak menarik saat dikemas.

Pengkabutan yang terlalu sering juga mengakibatkan lingkungan kumbung terlalu basah. Keadaa ini bisa memacu pertumbuhan mikroorganisme lain seperti ganggang dan bakteri pada media baglog. Hasil jamur tiram yang didapat pun terlalu basah sehingga mudah rusak atau tidak tahan lama saat disimpan.

Masalah yang lain lagi yaitu terkadang petani sulit menentukan waktu siram. Patokannya bukan pagi dan sore tapi apabila kelembapan kumbung telah berkurang. Bagi kumbung yang memiliki pengukur kelembapan saya rasa hal ini tidak menjadi persoalan.

Ada tips sederhana untuk mengatasi atau paling tidak dapat mengurangi masalah tersebut di atas. Efek lainnya yaitu dapat meningkatkan pertumbuhan dan bobot panen jamur tiram tanpa menjadikannya lebih lemah disimpan. Dengan cara ini hasil panen jamur tiram akan meningkat pada awal-awal panen karena kondisi baglog tidak banyak berubah.

Caranya cukup anda lubangi saja plastik pada bagian atas baglog tanpa membuka kapas penutup. Buat 2-3 lubang dan biarkan jamur tumbuh dari sana. Pada panen berikutnya buat kembali lubang di tempat berbeda dengan jumlah lubang lebih banyak. Cara ini memiliki maksud untuk mengurangi penguapan yang terjadi pada baglog sehingga air yang tersedia dimanfaatkan secara maksimal bagi pertumbuhan jamur tiram. Bila sudah demikian, otomatis bobot panen akan meningkat.

Mari kita lihat kebiasaan petani selama ini, ada yang membuka kapas, setelah panen dikorek-korek, atau membuka langsung memotong plastik bagian atas agar primordia yang keluar lebih banyak karena bidang tumbuh lebih luas. Tapi kelemahannya media mengalami penguapan yang tinggi dan cepat kering. Tentu anda dapat membandingkan penguapan yang terjadi antara baglog dengan diberi lubang kecil dengan baglog yang dibuka kapas penutupnya, terlebih-lebih yang dipotong plastik bagian atasnya…

Bila anda beranggapan pengkabutan akan membuat media kembali basah, saya menyangkal anggapan ini. Sebab baglog dengan misellium yang tebal tidak mudah menyerap air. Walau anda siram sekalipun air akan sedikit sekali yang terserap dan tidak akan mengembalikan kondisi seperti sedia kala. Anda dapat amati baglog yang plastiknya semakin hari semakin keriput, seharusnya hal itu tidak terjadi bila anggapan itu benar.

Nah, pada panen ketiga atau keempat dan seterusnya anda dapat membuat lubang yang lebih besar karena panen “monster” telah terjadi pada awal pertumbuhan. Lakukan perawatan seperti biasa… keberhasilan panen monster tidak terlepas pula dari kualitas bibit yang digunakan. Bibit kami telah banyak digunakan secara luas di daerah Bogor, Bandung, dan Lampung. Petani yang mencoba-coba menggunakan bibit lain pada akhirnya kembali lagi menggunakan bibit kami.

Sifat bibit jamur tiram yang kami produksi:

Ukuran besar, rumpun banyak, berwarna putih bersih dan tidak mudah pecah pingir tudungnya.

Kami tunggu anda di tempat kami untuk studi banding dan berbagi informasi, bila memungkinkan dapat terjalin hubungan bisnis… Silahkan lihat halaman KONTAK. Anda ingin mengetahui layanan kami silahkan lihat TOTAL SUPPORT.

 

salam hangat,

Rachmatullah.

Pembuatan media PDA

Maksud dari media PDA di sini sebenarnya PSA. PDA kepanjangan dari Potato Dextose Agar yang terdiri dari ekstrak kentang, gula golongan dektrosa, dan agar. Sedangkan PSA terdiri dari gula pasir yang biasa kita konsumsi.

PDA biasa dijual di toko kimia dalam bentuk bubuk siap pakai, harganya cukup mahal dan blia dibandingkan PSA tentu jauh terpaut. PDA biasa dipakai untuk penelitian mikrobiologi yang membutuhkan ketelitian dan kemurnian tinggi sedangkan PSA bersifat teknis di “lab lapang”.

Langkah-langkah pembuatan PDA yaitu:

Baca lebih lanjut

Pembuatan Media Tanam Jamur Tiram (Baglog)

Pembuatan media tanam dalam baglog dimaksudkan untuk mempermudah peletakan dalam kumbung serta untuk mengatur kontinuitas produksi. Baglog dapat diartikan kantung serbuk kayu atau kantung kayu berbentuk silinder (log), oleh karena itu media tanam dimasukkan dalam kantung plastik kemudian dipadatkan sehingga menyerupai log kayu (gelondongan).

Komposisi media tanam bukanlah hal yang mutlak, beberapa contoh dapat dilihat di komposisi.

Cara Pembuatan

1. Pilih serbuk kayu yang baik, masih baru (jelas riwayat), bebas dari kotoran, sampah atau tercemar minyak oli pemotongan kayu
2. Bersihkan serbuk kayu dari semua kotoran, apabila memungkinkan lakukan pengayakan
3. Biarkan serbuk kayu melapuk dengan sendirinya selama satu minggu, selama penyimpanan jangan terkena air agar tidak dihinggapi cendawan lain
4. Lakukan pencampuran media hingga merata dengan komposisi lain sesuai takaran, pemberian air jangan terlalu banyak karena misellium jamur akan sulit tumbuh pada media yang jenuh air.
5. Masukkan media ke dalam plastik polipropilen (umumnya berukuran 17 x 35 cm atau 17 x 30 cm) kemudian padatkan secara bertahap. Media jangan terlalu penuh agar ring dapat dipasang.
6. Sterilisasi media dalam drum (kukus) tertutup rapat (tutup plastik) agar menciptakan ruang bertekanan. Sterilisasi dilakukan selama 3-4 jam atau 1 tabung kecil gas LPG.
7. Setelah api dari gas LPG mati, diamkan agar suhu turun hingga kurang lebih 50oC kemudian pindahkan ke ruang inokulasi.
8. Diamkan baglog selama satu minggu untuk mengetahui tingkat kontaminasi sebelum diinokulasi bibit. Hal ini untuk seleksi media yang baik dan mengurangi resiko kerugian.

Pembuatan Bibit Jamur Tiram Keturunan ke-2 (F2)

Bibit F2 berasal dari Bibit F1 yang ditanam ulang pada media berbeda. Pembuatan F2 dilakukan secara aseptik (steril) dalam laminar air flow cabinet (LAFC). Penggunaan LAFC tidaklah mutlak karena dapat digantikan dengan enkas / kotak kaca atau kayu.

Pembuatan bibit F2 dimulai dari pembuatan media bibit. Media ini terdiri dari:

Serbuk kayu 1kg
Biji-bijian 1kg
Dedak / bekatul 150g
Kapur 5g

Tahapan pembuatan media F2 sebagai berikut:

1. Biji-bijian di rebus hingga melunak / masak kemudian ditiriskan.
2. Campurkan dedak dengan kapur hingga merata.
3. Biji-bijian tiris dan bahan lain dicampur hingga merata.
4. Tambahkan 1 gelas air sumur kemudian aduk kembali.
5. Masukkan media tanam dalam botol saus.
6. Tutup botol dengan kapas hingga rapat.
7. Sterilisasi media menggunakan autoklaf selama 1 jam.

Setelah media bibit disterilisasi, diamkan hingga suhu menurun hingga kurang lebih 50oC dalam autoklaf. Media bibit yang telah mendingin disimpan dalam ruang inokulasi dan dibiarkan selama seminggu untuk mengetahui tingkat kontaminasi.

Media yang steril kemudian digunakan untuk membuat bibit F2 dalam LAFC. Tahapan inokulasi bibit sebagai berikut:

1. Nyalakan lampu UV selama 1 jam sebelum inokulasi
2. Cuci tangan dengan sabun sebelum melakukan inokulasi
3. Semprotkan alkohol ke dalam ruang LAFC kemudian seka menggunakan tisu
4. Nyalakan blower LAFC
5. Semprotkan alkohol ke botol media dan alat-alat kemudian masukkan ke dalam LAFC
6. Semprotkan ke tangan tiap kali tangan dimasukkan ke dalam LAFC
7. Buka kapas media kemudian bakar ujung botol di api
8. Buka kapas F1 kemudian bakar ujung botol di api
9. Ambil bibit F1 menggunakan sudip dan masukkan ke media F2
10. Bakar lagi ujung botol F1 kemudian tutup dengan kapas
11. Bakar ujung botol F2 dan kapas (sekilas) kemudian tutupkan
13. Simpan botol di ruang inkubasi

Pada minggu ke-3 hingga ke-4 misellium bibit sudah memenuhi media dalam botol dan siap digunakan sebagai bibit produksi.

Komposisi Media Tanam Jamur Tiram (Baglog)

Jamur tiram putih dengan nama latin Pleurotus ostreatus merupakan jamur kayu yaitu jamur yang tumbuh di kayu. Jamur ini memiliki nilai ekonomis tinggi karena dapat dimakan dan memiliki kandungan gizi yang baik bagi tubuh.

Akhir-akhir ini komoditi jamur konsumsi semakin dilirik untuk dikembangkan. Dengan memodifikasi lingkungan tumbuh dan medianya jenis-jenis jamur ini dapat hidup dengan baik dan mendatangkan keuntungan.

Secara budidaya, kita tidak mungkin menanam pada batang kayu karena akan sangat merepotkan. Oleh karena itu media jamur tiram dibuat untuk mempermudah, memaksimalkan kualitas dan kuantitas produksi. Media itu kemudian dibuat dalam kantung-kantung plastik berisi serbuk kayu yang telah dilengkapi komposisi tambahan (baglog). BAG = kantung dan LOG = kayu berbentuk log atau silinder

Berikut merupakan media tanam yang dapat digunakan:

Komposisi I

Serbuk gergaji : 100kg
Bekatul : 10kg
Kapur : 0.5kg
Tepung Jagung : 0.5kg
Air Sumur : 45-60% volume
TSP : 0.5kg
Gipsum : 0.5kg

Komposisi II

Serbuk gergaji : 30krg
Bekatul : 45kg
Kapur : 12kg
Tapioka : 15kg
Air Sumur : 45-60% volume

Hal penting yang menentukan keberhasilan media yaitu jenis kayu. Serbuk kayu albasiah atau sengon sangat baik untuk media. Namun jangan sekali-kali memakai kayu pinus karena dapat dipastikan tidak akan tumbuh. Secara sederhana hindari penggunaan kayu yang bergetah.

Kedua komposisi tersebut dapat digunakan dan sifatnya tidak mutlak. Biasanya masing-masing pembudidaya memiliki komposisi dan idealisme berbeda.

Komposisi pertama memiliki kelebihan yaitu mempercepat pertumbuhan jamur, hasilnyapun rata-rata lebih besar dari komposisi kedua. Keunggulan ini karena pengaruh dari pemberian TSP yang dapat memacu pertumbuhan misellium.

Akan tetapi komposisi pertama memiliki kelemahan yaitu jamur yang dihasilkan lebih berair / lebih lunak sehingga tidak dapat bertahan lama. Hasil komposisi pertama bila dikeringkan rendemennya lebih kecil dibandingkan komposisi kedua.

Kelemahan yang kedua yaitu jenis media ini membuat jamur yang dihasilkan tidak organik. Kesadaran masyarakat akan hidup sehat semakin tinggi, kasyarakat vegetarian akan lebih menghargai keorganikan hasil komposisi kedua. Jamur tidak organik lambat laun akan kalah saing bila bertarung di pasar modern dan tentu saja hal ini membatasi ruang gerak pemasaran.